Eko Noer Kristiyanto
Bobotoh Persib, peneliti hukum olah raga dan hukum tata negara Kementerian Hukum dan HAM, kolomnis Pikiran Rakyat
“TETAP
Semangat dan Sukses Selalu”, itulah kalimat yang selalu ditinggalkan
oleh akun @bepe20 setiap kali menanggapi postingan saya di Instagram
atau menanggapi cuitan saya di Twitter.
Pada kenyataannya, kalimat
tersebut seakan menjadi ciri khas seorang sosok yang telah memberi
warna pekat bagi negeri ini. Sosoknya tak cukup dilabeli sekadar pemain
sepak bola. Kehadirannya menginspirasi banyak orang bahkan bagi mereka
yang tak menyukai sepak bola. Namun bolehlah kita selalu menempatkan dia
di rumah terbaiknya, sepak bola.
Tulisan ini hanyalah jejak kecil
yang tertangkap dari perjalanan panjang seorang legenda, salah satu
pemain terbaik yang pernah lahir di negeri ini, mengejar laju dan kesan
melalui perspektif kami yang tak pernah menjadi sekutu baginya dalam
kompetisi domestik.
Selalu ada kisah tabu yang cukup senonoh untuk diceritakan saat kita bicara Bambang Pamungkas dengan bobotoh Persib.
Rivalitas bias
Konteks
rivalitas panas antara Persib dan Persija bisa menjadi bias saat kita
bicara tentang Bambang Pamungkas alias Bepe. Begaimana tidak, jika
sebagian besar pendukung Persib pun terindikasi menyukai Bepe.
Ismed
Sofyan, Hamka Hamzah, dan beberapa nama lain boleh jadi pernah sangat
dibenci oleh publik sepak bola Bandung dalam beberapa laga lampau. Para
pemain Persija tersebut bolehlah masuk kategori “public enemy” di
stadion. Aksi sebersih apapun pasti dianggap berlebihan oleh bobotoh
Provokasi, protes, ataupun
tackle terhadap pemain Persib, semua mengundang gemuruh cacian, makian, hingga kata-kata kotor.
ADS HERE !!!